Minggu, 25 Oktober 2020

Bangunan Kolonial di Sekitar Alun-alun Kota Bandung

Berbicara tentang Kota Bandung, kita tidak akan pernah melewati bahasan tentang keindahan alam, kekayaan budaya dan aneka kulinernya yang menggiurkan. Salah satunya keberadaan bangunan kolonial sisa Hindia Belanda yang masih berdiri kokoh dan dibiarkan seperti bentuk aslinya yang ada di Jalan Asia Afrika Bandung.

 

Jalan yang berada di dekat alun-alun Bandung ini merupakan jalan utama yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda dan terdapat bangunan- bangunan megah yang dibuat dengan tujuan untuk mempermudah jalannya pemerintahan. Hingga kini, semua bangunan tersebut masih awet, bagus dan terlihat kokoh. Beberapa di antaranya digunakan sebagai kantor bank swasta. 

 

 

bangunan-kolonial-di-sekitar-alun-alun-kota-bandung
Gedung N.I. Escompto Mij

Gedung N.I. Escompto Mij

Di ujung Jalan Asia Afrika, persis berada di seberang Masjid Agung Bandung terdapat bangunan kolonial bekas Bank N.I. Escompto Mij. Bank tersebut merupakan bank pertama yang ada di Kota Bandung. Gedung N.I. Escompto Mij dibangun dengan menggunakan gaya arsitektur Art Nouveau yang didominasi ornamen penghias gedung.

Bank N.I. Escompto Mij didirikan pada tahun 1857, dan pada pertengahan tahun 1945 diambil alih oleh pemerintah dan diubah menjadi Bank Dagang Negara. Sampai akhirnya dimerger bersama bank lainnya dan menjadi Bank Mandiri hingga sekarang.

 

Letaknya yang persis berada di pertigaan jalan, membuat gedung ini jarang mendapat perhatian orang yang lewat. Lalu lintas kendaraan yang lewat, selalu fokus dengan lampu lalu lintas yang ada di ujung jalan tersebut. Namun jika anda berada di pelataran samping Masjid lalu memandang ke arah seberang jalan, bisa dengan leluasa menikmati bangunan kolonial yang indah dan terlihat masih kokoh.

Gedung Merdeka

Bangunan sisa kolonial berikutnya yaitu Gedung Merdeka. Bangunan yang satu ini merupakan gedung yang paling terkenal di Jalan Asia Afrika. Karena di tempat inilah, diadakan Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika pada tahun 1955. Gedung ini menempati areal seluas 7.500 meter persegi.


bangunan-kolonial-di-sekitar-alun-alun-kota-bandung

Gedung Merdeka yang dahulunya bernama Sociƫteit Concordia dibangun pada tahun 1895. Pada tahun 1926 direnovasi oleh Wolff Schoemacher, Aalbers dan Van Gallen. Gedung yang berada di bagian tengah jalur Jalan Asia Afrikaini dulunya dipergunakan sebagai tempat rekreasi dan sosialisasi oleh sekelompok masyarakat Belanda. Mereka itu merupakan pegawai perkebunan, pembesar, pengusaha, perwira dan kalangan lainnya yang memiliki perekonomian menengah ke atas. Pada hari libur, tempat tersebut dipenuhi oleh mereka untuk berdansa, makan malam atau menonton pertunjukan kesenian.

 

Saat ini Gedung Merdeka digunakan sebagai museum yang berisi berbagai barang koleksi dan foto tentang Konferensi Asia Afrika dan merupakan awal Gerakan Non-Blok pertama yang diadakan pada tahun 1955. 

Arsitektur bangunan ini kental sekali dengan nuansa art deco. Lantainya terbuat dari marmer buatan Italia yang mengilap dan bagian dalam ruangan terbuat dari kayu cikenhout. Sedangkan penerangan yang ada di Gedung Merdeka memakai lampu kristal yang digantung.

Gedung De Vries

Di seberang Gedung Merdeka, kita juga bisa menemukan bangunan sisa zaman kolonial. Gedung De Vries dahulunya merupakan toko serba ada milik orang Belanda yang bernama Andreas de Vries. Dia datang ke Bandung pada tahun 1899 dan tercatat sebagai orang Eropa ke 1.500 yang ada di Kota Bandung.

Keberadaan toko de Vries terkenal hingga seluruh kota, menyediakan berbagai barang kebutuhan seperti makanan, pakaian, sepatu, kain dan obat-obatan.


 

Di sisi luar bangunan tampak tulisan berbahasa Belanda yang tertulis di atas kusen jendela. Sebelum ini kami kira tulisan itu menerangkan kegunaan gedung sisa kolonial tersebut. Ternyata tulisan tersebut berisi informasi mengenai toko-toko dan barang yang dijual di toko serba ada tersebut. Seperti misalnya sigaren yang berarti cerutu, landbouwbenodigdheden yang artinya keperluan pertanian, kunst boek en apierhandel yaitu toko kesenian, buku, dan kertas, porcelein glass  yang berarti barang pecah belah, meubelen yaitu perabotan rumah tangga,  venduhouders adalah balai lelang, dan  dranken provisien yang artinya minuman beralkohol.

 

Toko serba ada  De Vries ini dahulunya menjadi langganan para sosialita yang ada di Kota Bandung. Sehingga keberadaannya dianggap sebagai salah satu pemicu perkembangan kawasan di sana sebagai pusat perbelanjaan.

Hotel Savoy Homann

Salah satu hotel tertua yang ada di Kota Bandung yaitu Hotel Savoy Homann. Hotel dengan arsitektur bergaya gothicini merupakan hotel yang dibangun oleh warga negara Jerman bernama Homann. Kala itu bangunannya masih berupa rumah tinggal yang terbuat dari bambu. Pada tahun 1880 bangunannya dipugar dan diganti dengan batu bata. 


 

Pada perkembangannya di tahun 1939, tempat penginapan tersebut dipugar oleh arsitek kenamaan Belanda yaitu A.F. Aalbers. Waktu itu Aalbers mendesain hotel tersebut menjadi bangunan tiga lantai bertema hyper-modern Artdeco Streamline dan masih dipertahankan hingga saat ini. Hotel Homann sangat dikenal oleh masyarakat karena digunakan sebagai tempat menginap para penyelenggara negara yang mengikuti Konferensi Asia Afrika di Gedung Merdeka pada tahun 1955

Gedung Nedhandel NV.

Masih di sekitar Jalan Asia Afrika, berseberangan dengan salah satu sudut alun-alun Kota Bandung, terdapat gedung Nedhandel NV. Gedung yang satu ini masih terawat keindahannya. Berwarna putih bersih dengan gaya arsitektur neo classic atau art deco ornamental. Model arsitektur yang sedang digemari pada saat itu. Namanya begitu khas, sesuai dengan zaman ketika bangunan tersebut dibuat yaitu Nedhandel NV. 

 

 

Bangunan Nedhandel NV pada mulanya dimiliki oleh Nederlandsche Handel Maatschappij NV, sebuah perusahaan yang berdiri sejak tahun 1824 dan berpusat di Amsterdam Belanda. Menurut keterangan yang diambil dari buku Bandung: Kilas Peristiwa di Mata Filatelis, Sebuah Wisata Sejarah yang ditulis oleh Sudarsono Katam Kartodiwirio, perusahaan Nederlandsche Handel Maatschappij NV adalah perusahaan dagang lalu beralih menjadi perusahaan perbankan.

 Gedung Swarha

Sesuai dengan tulisan besar yang ada di atap gedung, Gedung Swarha merupakan bangunan kolonial yang berada di seberang kantor Pos dan Giro dan berada di  sebelah Mesjid Agung Bandung. Sebagian besar masyarakat mengenal gedung ini sebagai Swarha Islamic.

 

Gedung Swarha awal mulanya dibangun untuk dijadikan hotel dan pertokoan. Bangunannya terdiri dari 5 tingkat, lantai dasarnya berfungsi sebagai pertokoan dan empat lantai yang ada di atasnya dimanfaatkan sebagai hotel. Sebenarnya gedung yang sekarang ini bukanlah bentuk aslinya. Sudah ada perombakan yang membuat keunikannya hilang. Dulunya gedung ini dibangun dengan gaya arsitektur eklektik dengan atap tumpuk seperti atap bangunan Cina.

 

Kabarnya, gedung tersebut sengaja dirobohkan dan dibangun ulang menjadi bentuknya seperti sekarang ini. Selama ini kami hanya melihat sebuah bangunan yang kosong, tidak digunakan apa-apa di bagian atasnya, ternyata gedung ini memang sedang bermasalah. Konflik antar pewaris dan konflik dengan pemerintah sempat mewarnai permasalahan gedung ini. Sayang sekali, bangunan bersejarah sisa kolonial tidak bisa dimanfaatkan kembali.

 


Semoga Gedung Swarha bisa dimanfaatkan kembali seperti gedung kolonial lainnya yang ada di Kota Bandung. Sehingga generasi muda bisa melihat dan belajar dari sejarah serta kekokohan bangunan  zaman kolonial yang ada di Kota Bandung.

1 on: "Bangunan Kolonial di Sekitar Alun-alun Kota Bandung"
  1. Halo mba Nurul. Aku senang loh bisa berkunjung ke tempat bersejarah seperti ini. Ada bangunan peninggalan yang aku harapkan bisa dilestarikan

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar ya...